REFLEKSI

Disinilah ladangku berekspresi, mengungkapkan segala idea dan idealisme ku. Disini pula ku belajar menulis, belajar mengekspresikan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Semoga bisa memberikan manfaat sekecil apapun itu.
Subscribe
Selamat Datang di Web Pribadiku. Meskipun sederhana dan sangat tidak ilmiah. Semoga Bermanfaat!!!

Indonesia: Negara Gagal

July 06, 2012 By: admin Category: Renungan Kehidupan

Indonesia: Negara Gagal
Oleh
Wajiran, S.S., M.A.
(Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Predikat sebagai negara gagal bagi Indonesia nampaknya bukan sekedar isu belaka. Negera yang sebenarnya gemah ripah loh jinawi ini menghadapi krisis multi dimensi yang sangat mengkhawatirkan eksistensi negara ini. Sebagaimana dilaporkan lembaga Fund For Peace yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, akhir Juni lalu, Negara Indonesia menduduki urutan ke 63 dari 178 negara gagal di dunia.
Meskipun berada pada urutan ke 63 yang dapat dikatakan posisi awas, tetap saja kita hrus waspada dengan lahirnya berbagai gejala sosial di negeri ini. Gejala-gejala tersebut sangat berpengaruh terhadap stabilitas sosial bangsa Indonesia.
Ada beberapa persoalan yang mengindikasikan negara ini disebut sebagai negara yang berada dalam kondisi awas (gagal). Pertama adalah Ketidakpastian perpolitikan nasional yang selalu digoncang dengan berbagai isu kejahatan para pejabat pemerintah di teras atas. Kondisi politik ini sangat berpengaruh terhadap stabilitas Negara. Secara politik, ekonomi, sosial dan budaya, suhu politik akan berpengaruh terhadap stabilitas negeri ini. Selama perpolitikan tidak stabil, negeri ini tidak bisa melakukan langkah pembangunan secara maksimal karena para elit bergulat dengan masalahnya sendiri-sendiri.

Ketidakstabilan politik di pusat juga berpengaruh terhadap isu-isu yang ada di daerah. Hal ini disebabkan daerah tidak terpikirkan oleh pemerintah pusat. Pembangunan yang tidak mereta membuat masyarakat di daerah merasa dianaktirikan sehingga menimbulkan gejolak di daerah dengan isu-isu separatisme. Kasus-kasus seperti ini sudah sering terjadi di wilayah-wilayah Indonesia, seperti di Nangro Aceh Darussalam dengan organisasi GAM, di Papua dengan organisasi Gerakan Papua Merdeka, dan lain sebagainya. Lahirnya gerakan-gerakan separatis ini merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat daerah terhadap pemerintah pusat.
Indikasi ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dapat dilihat juga dari lahirnya ormas-ormas yang sering melakukan main hakim sendiri. Lahirnya ormas ini merupakan wujud ketidakpercayaan masyarakat akan pemerintah. Pemerintah dianggap tidak bisa mengakomodasi kepentingan mereka, sehingga mereka membentuk organisasi yang dianggap dapat mewakili aspirasi mereka. Organisasi seperti Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), Forum Betawi Rembuk (FBR) atau Forkabi adalah usaha mereka mempertahankan kepentingan golongan mereka. Keberadaan organisasi ini juga dapat dikatakan sebagai negara dalam negara. Karena mereka melakukan tindakan yang sering tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di negeri ini.
Lahirnya ormas-ormas ini bukan hanya membahayakan bagi masyarakat pada umumnya, tetapi juga persatuan dan kesatuan negara. Keberadaan ormas ini sering menimbulkan gesekan-gesekan antarormas yang menimbulkan huru-hara di dalam masyarakat. Gesekan ini akan terus berulang karena masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Itulah yang sering menimbulkan sikap anarkhis di dalam masyarakat kita. Bentrokan atau pengoroyakan yang terjadi antara Pemuda Pancasila dengan Forum Betawi Rembuk adalah contoh kecil adanya gesekan kepentingan antarormas tersebut.
Pemerintah harus segera tanggap dengan lahirnya ormas-ormas ini. Pemerintah harus mengantisipasi jangan sampai lahir organisasi yang tidak produktif sehingga melahirkan ancaman separatisme atau lahirnya perang antar ormas karena kepentingan segelintir orang yang menguasai ormas tersebut. Ketentuan hukum yang tegas perlu segera dilaksanakan agar masyarakat juga semakin yakin dengan tugas dan fungsi pemerintah di dalam mengayomi masyarakat. Jangan sampai rakyat benar-benar tidak percaya lagi dengan lembaga pemerintah sehingga bersikap anarkhis untuk menyelesaikan setiap persoalan di negeri ini.
Jika dilihat dari akar masalahnya, larhirnya ormas-ormas tersebut sebagai sebuah indikasi tidak berfungsinya ideologi di negeri ini. Faktor ideologi adalah faktor paling penting yang menyebabkan negeri ini disebut sebagai negara gagal. Pancasila saat ini sudah tidak terpancar lagi di dalam kehidupan kita. Nilai-nilai luhur bangsa tentang kemandirian, kejujuran, keramahan, gotongroyong, dan keberanian saat ini sudah terkikis oleh sifat hedonis materialis yang melahirkan koruptor di negeri ini. Hal ini tentu karena begitu kuatnya intervensi asing yang begitu kuat di dalam kancah perpolitikan di negeri ini.
Tugas pemerintah saat ini adalah memperbaiki stabilitas perpolitikan bangsa ini, agar fokus pembangunan negeri ini lebih terarah. Pemerintah harus tegas terhadap lahirnya organisasi-organisasi yang dapat menimbulkan gesekan-gesekan yang membahayakan kesatuan NKRI. Itu sebabnya pemerintah harus berusaha memberi rasa aman dan tenteram bagi masyarakat, sehingga masyarakat tidak perlu membentuk organisasi sendiri sebagai benteng pertahanan mereka. Faktor ekonomi dan keamanan kiranya menjadi kunci kesetabilan emosi masyarakat kita saat ini. Wa Allah a’lam.
Yogyakarta, 06 Juli 2012

Comments are closed.

  • "Hambatan terbesar untuk sukses adalah rasa takut akan kegagalan." - Sven Goran Eriksson
  • SAMBUTAN

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Web site ini saya buat sebagai niatan saya untuk berbagi pengalaman kepada siapa saja yang secara sengaja atau tidak sengaja berkunjung ke blog ini. Saya hanya berharap akan ada manfaat dari apa yang sudah saya tulis di dalam web ini.

    Sungguh saya memohon doa kepada Allah SWT, agar apapun dan bagaimanapun usaha yang saya lakukan ini tidak ada unsur kesombongan atau arogansi intelektual dalam hati saya. Saya Cuma berkeyakinan bahwa gagasan dan pandangan itu akan sangat penting dan bermanfaat jika disebarkan atau disampaikan kepada orang lain. Karena itulah bagian dari jihad mulia kita, yaitu berjihad dengan berbagi ilmu. Meskipun saya sangat menyadari ilmu yang saya miliki jauh dari sempurna. Oleh karena itu sekecil apapun manfaat dari tulisan-tulisan yang ada di web ini semoga memberikan kebaikan bagi kehidupan ini.

    Saya akan sangat menghargai bagi para pembaca yang bersedia memberikan respon atau tanggapan baik melalui email ataupun comment yang ada di setiap akhir tulisan. Sebisa mungkin saya akan merespon dan menanggapi kritik dan saran agar memberikan kebaikan khususnya pada diri saya sendiri.

    Akhirnya, hanya kepada Allah lah saya mohon petunjuk dan pertolongan semoga saya diberi kesempatan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam kehidupan ini.

    Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kunjungan anda.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Wajiran, S.S., M.A.

  • RSS DetikNews

  • Gabung


Social Widgets powered by AB-WebLog.com.

google-site-verification: google125bf4f8221d4ce9.html