REFLEKSI

Kepuasan hidup sejati adalah ketika kita bisa berbagi. Berbagi tidak ditentukan dari kuantitasnya tetapi keikhlasanya. Itu sebabnya web ini ingin berbagi; artikel dan bentuk lain berisi refleksi atau renungan kehidupan; motivasi, agama, sosial, politik dan gender.
Subscribe

Perbedaan Kebaikan dan Kebijaksanaan

December 18, 2012 By: admin Category: Renungan Kehidupan

Perbedaan Kebaikan dan Kebijaksanaan

Ukuran kebaikan pada seseorang memang sangat sulit ditentukan. Kadang diri kita menilai baik, tapi belum tentu bagi orang lain. Demikian juga sebaliknya.
Patokan kebaikan sebenarnya tidak lepas dari kebijaksanaan. Kebijaksanaan biasanya dapat dilihat dari kemampuannya berbuat adil. Adil di dalam bersikap atau menempatkan diri. Itu sebabnya dalam Islam pengertian keadilan dikaitkan kemampuan seseorang di dalam menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.

Orang yang bijak adalah orang yang mampu menempatkan diri dalam posisi yang sebanding. Saat ia menjadi bawahan ia mampu bersikap hormat, sopan dan taat pada ketentuan atasan. Sebaliknya, saat ia menjadi atasan, ia mampu mengayomi dan mempimpin orang lain dengan kasih sayang. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang tidak pilih kasih; ia mengangkat yang lemah dan menghargai yang kuat.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak melahirkan musuh dalam selimutnya sendiri. Tidak memusuhi bawahan yang berada dalam kesulitan, tetapi justru memberi motivasi bawahan yang sedang membutuhkan semangat motivasi atasan. Tidak pilih kasih terhadap yang berkemampuan lebih, dengan segala upaya menunjukan keberpihakan sehingga melahirkan sebuah kepincangan.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang fair dalam bersikap. Tidak mudah dijilat oleh orang-orang yang mudah memanfaatkan kondisi. Karena jika demikian perlambang kehancuran pasti terjadi. Pemimpin yang bijak tidaklah cukup menjadi orang baik, tetapi harus adil. Pemimpin yang terlalu baik justru bisa jadi orang yang paling dholim, karena kebijakanya hanya akan memihak pada orang-orang yang dekat, sehingga para penjilat akan memanfaatkan dirinya untuk kepentingan golongan penjilat. Disinilah kerusakan kepemimpinan.
Betapa banyak pemimpin yang terlalu baik kemudian tersungkur karena kebaikannya memberi berlebihan kepada orang yang memanfaatkanya. Itu sebabnya pemimpin yang terlalu baik bisa jadi menjadi penjahat dan berdosa besar karena tidak bisa berbuat adil. Tidak bisa mengatur dan mengendalikan orang-orang dilingkungannya, sehingga melahirkan kecurangan-kecurangan dimana-mana.
Itulah kenapa menjadi seorang pemimpin haruslah baik dan bijak dalam mengambil segala keputusan. Dengan demikian segalah keputusan yang diambil tidak tebang pilih berdasarkan kedekatan emosi tetapi berdasarkan rasio kebenaran dan keadilan. Wallahua’alam bishawab. By Wajiran, S.S., M.A. (http:/www.wajiran.com)

Leave a Reply

  • "Hambatan terbesar untuk sukses adalah rasa takut akan kegagalan." - Sven Goran Eriksson
  • SAMBUTAN

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Web site ini saya buat sebagai niatan saya untuk berbagi pengalaman kepada siapa saja yang secara sengaja atau tidak sengaja berkunjung ke blog ini.

    Saya berharap sekecil apapun manfaat dari tulisan-tulisan yang ada di web ini semoga memberikan kebaikan bagi kehidupan ini.

    Hanya kepada Allah lah saya mohon petunjuk dan pertolongan semoga saya diberi kesempatan untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam kehidupan ini.

    Terimakasih atas kunjungan anda.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Wajiran, S.S., M.A.
    HP :087839677754
    e-mail: wajiran79@gmail.com

  • RSS DetikNews


Social Widgets powered by AB-WebLog.com.

google-site-verification: googled08bee9ed0c5c461.html